Banda Aceh – Surat Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), kepada Presiden RI Prabowo Subianto mengenai minyak dan gas (migas) di Lapangan Tangkulo Andaman Selatan telah dilayangkan sejak pekan lalu.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr Nurlis Effendi, membenarkan ihwal surat tersebut. “Gubernur Mualem mengusulkan yang terbaik untuk negara ini, khususnya untuk Aceh. Sekarang kita menunggu respon Pemerintah Pusat,” kata Nurlis di Banda Aceh, Senin (6 Juli 2026).
Surat Gubernur Aceh bernomor 500.16.7.2/7039 bertanggal 25 Juni 2026, prihal Peninjauan dan Revisi Persetujuan Rencana Rencana Pembangunan (PoD) I Lapangan Tangkulo Wilayah Kerja (WK) Andaman Selatan, telah diterima Kementerian Sekretariat Negara pada tanggal 30 Juni 2026..
Nurlis menjelaskan, Gubernur Mualem menyurati Presiden Prabowo sebagai respons terhadap kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, terhadap (PoD) I Lapangan Tangkulo WK Andaman Selatan.
Menteri Bahlil melalui suratnya nomor T-85/MG.04/MEM.M/2026 tanggal 9 Maret 2026 untuk SKK Migas menyetujui PoD I pengolahan gas mentah dilakukan dengan fasilitas Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) yang berada di laut.
Oleh karena itu, Gubernur Mualem menginstruksikan berkumpul untuk mempelajari PoD I Lapangan Tangkulo WK Andaman Selatan. Sekretaris Daerah Aceh M Nasir Syamaun menggelar rapat membahas PoD I Blok Andaman pada Kamis (25 Juni 2026).
Rapat itu mempertemukan unsur pemerintah, pakar migas, sejarawan, serta sejumlah pemangku kepentingan untuk membahas masa depan pengelolaan sumber daya energi Aceh. “Dari hasil rapat inilah yang menjadi inti surat gubernur,” kata Nurlis.
Nurlis menyebut empat poin inti dalam surat Gubernur Mualem. Pertama, Pemerintah Aceh menilai besaran bagi hasil (split) sangat kecil (4% gas dan 6% minyak) karena Pemerintah yang terdapat dalam PoD I masih perlu meninjau ulang. “Dirasionalkan dengan kepentingan nasional dan Aceh,” kata Nurlis.
Kedua, Pemerintah Aceh mengusulkan skenario pengolahan gas mentah di darat (Onshore) pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun yang memiliki infrastruktur eksisting bekas PT Arun NGL yang merupakan Proyek Strategis Nasional sesuai RPJMN 2025-2029 dan Asta Cita Prabowo-Gibran.
Selanjutnya yang ketiga, kata Nurlis, dalam suratnya Gubernur Mualem berharap Presiden Prabowo bersedia mengarahkan Menteri ESDM meninjau dan merevisi Persetujuan Rencana PoD I Lapangan Tangkulo di Wilayah Kerja Andaman Selatan. “Poin berikutnya, Gubernur Mualem juga meminta alokasi khusus minyak dan gas bumi untuk Aceh,” kata Nurli.
Nurlis memaparkan di kawasan Andaman memiliki enam blok migas utama, yakni Andaman I, Andaman II, Andaman III, Andaman Tengah, Andaman Selatan, dan Andaman Barat Daya.
Lapangan Gas Tangkulo, kata Nurlis, memproduksi gas sekitar 300 MMSCFD. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 160 MMSCFD yang telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN. Sisanya dinilai membuka peluang besar bagi tumbuhnya berbagai industri hilir.
Selain gas, Lapangan Andaman Selatan juga diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari. Produk ini dapat diolah menjadi nafta, kerosin, hingga bensin yang menjadi bahan baku industri petrokimia, cat, dan bahan bakar minyak.
“Kondensat akan menjadi penggerak lahirnya kilang (kilang). Dampak ekonomi sesungguhnya akan muncul ketika berbagai industri hilir mulai berdiri dan beroperasi,” jelasnya.
Tidak ada komentar