Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag, saat memberikan kuliah umum di Kampus IAIN Langsa, Sabtu (19/9/2026). Kota Langsa – Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag, mendorong IAIN Langsa memperkuat tradisi intelektual Islam dan pengembangan kajian keislaman di tengah transformasi global.
Hal itu disampaikan Prof. Amien saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Pascasarjana IAIN Langsa di Aula Gedung Kuliah Terpadu IAIN Langsa, Sabtu (19/9/2026).
Kuliah umum mengusung tema “Masa Depan Pendidikan Islam di Era Transformasi Global” dan diikuti mahasiswa Program Magister serta Doktor Pascasarjana IAIN Langsa.
Dalam pemaparannya, Prof. Amien mengatakan Aceh memiliki kekayaan tradisi intelektual Islam yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Ia berharap Kota Langsa dapat menjadi salah satu barometer pengembangan tradisi intelektual dan program studi keislaman.
“Aceh ini sumber inspiratif. Dalam konteks tradisi intelektual Aceh harus menjadi barometer, Langsa harus menjadi barometer bagaimana mengembangkan program studi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan fokus kajian pada Program Studi Studi Islam, khususnya bagi mahasiswa yang memasuki tahap penelitian dan penulisan karya ilmiah.
Menurutnya, tuntutan akademik berbeda pada setiap jenjang pendidikan. Mahasiswa S1 diarahkan untuk mengetahui dan mendeskripsikan persoalan, sedangkan mahasiswa S2 dituntut mampu melakukan analisis, perbandingan, serta menyampaikan gagasan akademiknya.

“Seorang magister sudah harus berani membuat tesis, berani menyampaikan pendapatnya, bukan lagi hanya mendeskripsikan,” jelasnya.
Sementara mahasiswa program doktoral, kata Prof. Amien, dituntut menghasilkan kebaruan keilmuan melalui pengembangan teori, konsep, atau gagasan dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Ia menegaskan, pembentukan intelektualitas tidak dapat berlangsung secara instan. Pendidikan Islam membutuhkan proses panjang dan ekosistem akademik yang mendukung.
Prof. Amien juga mendorong penguatan ma’had, kajian kitab kuning, serta tradisi keilmuan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan intelektualitas mahasiswa.
“Belajar agama tidak cukup hanya dalam sebuah 14 kali pertemuan. Kita membutuhkan proses yang panjang. Perjumpaan ilmu itu terjadi melalui proses yang terus-menerus,” katanya.
Ia berharap IAIN Langsa mampu melahirkan generasi intelektual Muslim yang memiliki kontribusi luas terhadap perkembangan pemikiran Islam.
“Kita harus melahirkan Hamzah Fansuri yang baru, dan basisnya adalah kampus,” tegasnya.

Pascasarjana Didorong Jadi Rumah Intelektual Islam
Direktur Pascasarjana IAIN Langsa, Mohd. Rasid Ritonga, Ph.D., mengatakan pertumbuhan jumlah mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap IAIN Langsa.
Menurutnya, perkembangan tersebut perlu diikuti penguatan fasilitas dan ruang akademik agar aktivitas keilmuan dapat berkembang secara optimal.
“Gagasan memang tidak boleh dibatasi oleh dinding, tetapi gagasan tetap memerlukan ruang untuk dipertemukan. Di dalam ruang itulah seorang dosen menyalakan pertanyaan, mahasiswa memperdebatkan teori, dan tesis serta disertasi bermula,” ungkapnya.
Ia berharap Pascasarjana IAIN Langsa dapat berkembang menjadi rumah intelektual Islam di Aceh yang mempertemukan tradisi, modernitas, ilmu agama, ilmu sosial, kemanusiaan, serta kearifan lokal.

Sementara itu, Rektor IAIN Langsa Prof. Dr. Ismail Fahmi Arrauf Nasution, MA, mengapresiasi kehadiran Dirjen Pendis Kemenag RI.
Menurutnya, kuliah umum tersebut memberikan motivasi bagi sivitas akademika untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.
Rektor juga menyampaikan sejumlah perkembangan IAIN Langsa, termasuk penguatan sarana dan prasarana serta pengembangan program doktoral yang mendapat respons positif dari masyarakat.
Ia meminta mahasiswa Program Doktor memanfaatkan kesempatan belajar bersama guru besar dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi.
Menurutnya, pendidikan doktoral tidak sekadar mengejar gelar, tetapi harus menghasilkan perubahan pola pikir, sikap, dan kontribusi di tengah masyarakat.
“Saya berharap S3 ini punya warna. Kita tidak hanya besar di dalam, tetapi bisa berkontribusi di tempat pengabdian masing-masing. Jangan sama saja setelah kuliah doktor, harus ada perubahan dalam mindset, cara berpikir, dan cara bersikap,” pesannya.
Selain penguatan akademik, IAIN Langsa juga terus mempersiapkan transformasi kelembagaan menuju Universitas Islam Negeri (UIN) sebagai bagian dari upaya memperluas peran perguruan tinggi tersebut dalam pengembangan pendidikan tinggi keislaman di Aceh.
Tidak ada komentar