Shalawat Merdu, Pengungsi Masih Menunggu: Maulid Aceh Jangan Berhenti di Panggung

waktu baca 5 menit
Minggu, 13 Sep 2026 15:58 233 Redaksi

Shalawat Merdu, Pengungsi Masih Menunggu: Maulid Aceh Jangan Berhenti di Panggung

Oleh: Muhammad Rusdi bin Muhammaddiah, Lc. MA, Dosen Fakultas Syariah IAIN Langsa.

Shalawat bergema lagi di Aceh. Tenda terpasang. Kenduri disiapkan. Nama Nabi Muhammad disebut dengan penuh hormat. Tapi di balik gema itu, masih ada tenda pengungsian. Masih ada keluarga yang kehilangan rumah. Masih ada anak yang belajar tanpa kepastian. Maka pertanyaan yang paling jujur setelah bencana besar akhir 2025 adalah: Maulid untuk siapa, jika kepedulian berhenti di lidah?

Pada 26 November 2025, BMKG mengumumkan terbentuknya Siklon Tropis Senyar dan meminta kewaspadaan cuaca ekstrem di Aceh dan Sumatera Utara. Hujan sangat lebat hingga ekstrem datang. Yang menyusul bukan sekadar genangan biasa. Banjir bandang dan longsor merobek banyak wilayah. Data BNPB pada awal 2026 mencatat sekitar 550 korban jiwa di Aceh, sementara total di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menembus lebih dari seribu jiwa meninggal. Di Aceh sendiri, lebih dari dua juta warga terdampak. Posko daerah sempat mencatat puluhan ribu orang masih bertahan di ratusan titik pengungsian berminggu-minggu kemudian. Angka itu bukan statistik kosong. Itu napas orang yang belum pulih.

Di situlah benturan gagasannya. Sebagian orang merasa cukup dengan doa, zikir, dan shalawat. “Kita sudah ingat Nabi. Kita sudah berdoa. Sisanya pasrah.” Sebagian lain menjawab lebih tajam: mengingat Nabi tanpa menolong saudara yang terdampak adalah penghormatan yang timpang. Shalawat itu indah. Tapi shalawat yang berdiri sendiri, tanpa tangan yang bergerak, mudah menjadi ritual penenang.

Aceh sebenarnya sudah memberi isyarat yang baik. Pada Desember 2025, sejumlah kegiatan Maulid digelar sebagai bentuk solidaritas pascabencana. Pedagang ikan dan nelayan di Aceh Barat merangkaikan Maulid dengan doa untuk korban banjir. Lembaga Wali Nanggroe menggelar Aceh Berzikir yang digabung dengan Maulid Raya, lalu menyalurkan ribuan kotak makanan siap saji dan menghimpun donasi puluhan juta rupiah untuk warga terdampak. Itu bukti bahwa Maulid bisa menjadi gerakan, bukan hanya perayaan. Persoalannya, gerakan itu belum selesai hanya karena panggung sudah dibongkar.

Dalam cara pandang keagamaan yang hidup di masyarakat, meneladani Nabi bukan berarti meniru pakaian atau memperbanyak pujian semata. Nabi dikenal sebagai orang yang paling peduli pada yang lemah. Ia melindungi yang terluka. Ia hadir di tengah kesusahan umat. Jika Maulid hanya menjadi malam indah tanpa konsekuensi sosial, maka kita sedang merayakan nama, bukan meneladani sikap.

Prinsip fikih yang relevan di sini sederhana dan dekat dengan akal sehat: mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mengejar keuntungan formalitas. Dalam bahasa publik, lebih penting menyelamatkan orang yang kelaparan di pengungsian daripada memperbesar pesta yang membuat kita merasa sudah “beragama”. Kaidah lain juga terang: mudarat harus dihilangkan. Selama saudara kita masih tidur di lantai tenda, mudarat itu belum hilang. Doa sah. Bantuan lebih mendesak.

Argumen paling berat adalah moral. Tidak ada pembenaran untuk merasa tenang hanya karena sudah bershalawat, sementara tetangga kehilangan atap. Kepedulian adalah ujian paling jujur dari iman publik. Ketika seorang ibu mengungsi bersama anaknya, yang ia butuhkan bukan ceramah panjang tentang keutamaan Maulid. Ia butuh makanan, obat, pakaian, dan kepastian bahwa negara serta umat tidak meninggalkannya.

Argumen kedua bersifat sosial. Bencana hidrometeorologi jarang berhenti pada hari hujan reda. Jalan putus. Jembatan rusak. Pasar lumpuh. Anak kehilangan sekolah. Orang dewasa kehilangan kerja. Di titik ini, Maulid yang hanya menjadi hiburan spiritual justru berbahaya. Ia memberi rasa sudah berbuat, padahal pemulihan masih jauh. Agama harus berani mendorong umat dari “sudah berdoa” menuju “sudah membantu”.

Argumen ketiga baru soal kebijakan dan tanggung jawab bersama. Wali Nanggroe pernah menegaskan bahwa duka Aceh adalah duka bangsa. Benar. Tapi bangsa tidak cukup hadir lewat seruan. Negara harus memastikan logistik, akses, dan pemulihan infrastruktur tidak macet di janji. Ulama dan dayah perlu terus mengarahkan Maulid menjadi sekolah kepedulian: kumpulkan bantuan, rawat yatim korban bencana, dampingi pengungsi, jaga agar donasi tepat sasaran. Masyarakat sipil jangan berhenti di foto kepedulian. Yang dibutuhkan adalah kerja panjang.

Tentu ada sanggahan: shalawat dan zikir juga penting untuk menenangkan hati. Benar. Hati yang tenang dibutuhkan agar orang tidak putus asa. Tapi ketenangan yang tidak melahirkan tindakan adalah kemewahan. Di Aceh, sejarah panjang musibah sudah cukup mengajarkan bahwa iman yang hidup selalu punya dua kaki: doa dan ikhtiar. Satu kaki di sajadah. Satu kaki di lapangan.

Maka apa yang harus dilakukan?

Pertama, ubah cara merayakan. Setiap Maulid pascabencana sebaiknya punya “pos kepedulian” yang nyata: dapur umum, paket sembako, bantuan anak sekolah, atau kerja bakti membersihkan sisa lumpur. Jangan biarkan panggung lebih ramai dari posko.

Kedua, jaga keberlanjutan. Banjir besar akhir 2025 sudah hampir setahun berlalu, tapi luka pemulihan belum tentu selesai. Bantuan di minggu pertama memang mudah datang. Yang sulit adalah tetap peduli setelah kamera pergi—apalagi kini BMKG kembali memperingatkan potensi hujan lebat yang bisa memicu banjir di Aceh. Di situlah ukhuwah diuji. Maulid yang benar meninggalkan jejak panjang, bukan hanya saat bencana sedang ramai dibicarakan.

Ketiga, sambungkan spiritualitas dengan mitigasi. Doa minta selamat tetap sah. Tapi doa tanpa menata drainase, tanpa menjaga hutan hulu, tanpa menghormati peringatan dini BMKG, hanya menjadi ritual penenang. Meneladani Nabi juga berarti menjaga amanah negeri agar bencana tidak diperparah kelalaian manusia.

Keempat, buat ukuran sederhana. Jika setelah Maulid tidak ada satu keluarga pun yang terbantu, maka kita baru merayakan suasana. Belum meneladani Nabi. Ukuran itu kasar, tapi jujur.

Aceh tidak kekurangan semangat keagamaan. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk menyambungkan cinta kepada Nabi dengan cinta kepada orang yang masih menderita. Shalawat tetaplah dikumandangkan. Tapi biarkan shalawat itu punya tangan. Biarkan ia sampai ke tenda pengungsian, ke dapur yang kehabisan beras, ke anak yang kehilangan sekolah.

Maulid pasca banjir tidak boleh berhenti menjadi malam yang indah. Ia harus menjadi pagi yang bekerja. Sebab negeri yang sering memuji Nabi, tapi lambat menolong saudara sendiri, sedang menyimpan jarak berbahaya antara lidah dan hati. Dan jarak itu, cepat atau lambat, akan terlihat setiap kali bencana datang lagi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA