Pulihkan Fungsi Sosial Penderita di Yayasan Medan Plus ODHA, Mahasiswi Kessos USU Terapkan Metode Casework Berbasis Kekuatan

waktu baca 3 menit
Minggu, 7 Jun 2026 08:38 21 Redaksi

Medan – Stigma negatif dan diskriminasi sosial masih menjadi tantangan terberat yang harus dihadapi oleh Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia, Sabtu (6/6/2026).

Tekanan psikososial ini kerap kali berujung pada disfungsi relasi sosial, isolasi mandiri, hingga depresi berat, terutama bagi para penyintas yang tidak mendapatkan dukungan dari sistem keluarga inti mereka.

Merespons realitas sosial yang memprihatinkan ini, Rutmaida br siringo-ringo mahasiswi program studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sumatera Utara (USU), melakukan intervensi pekerjaan sosial mikro secara langsung (direct service) melalui kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Yayasan Medan Plus.

Pelaksanaan praktikum lapangan ini berada di bawah bimbingan langsung Dosen Pendamping Praktikum, Prof. Dr. Drs. Bengkel, M.Si, dan ditujukan sebagai pemenuhan tugas terstruktur pada mata kuliah Praktikum Kerja yang diampu oleh Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M. Kesos.

Dalam melaksanakan praktikumnya, Rutmaida mendampingi seorang klien dewasa awal berinisial D (26 tahun) yang merantau di Kecamatan Medan Selayang.

Klien D berada dalam kondisi kerentanan berlapis setelah mengalami pemutusan hubungan keluarga akibat perbedaan keyakinan. Di tengah situasi sebatang kara tersebut, D mengalami kecelakaan kerja yang berujung pada tindakan pelecehan seksual, yang diyakini menjadi titik penularan virus HIV.

Tiga tahun pasca-peristiwa traumatik tersebut, Klien D didiagnosis positif HIV dan mengidap penyakit Tuberkulosis (TBC). Akibat trauma pengucilan dari lingkungan kos lama serta komunitas gerejanya, D mengembangkan mekanisme koping defensif yang keliru.

Ia menarik diri secara total (withdrawal), merahasiakan statusnya dari keluarga kandung, serta memilih hidup individualis karena merasa tidak lagi membutuhkan orang lain.

Melihat kompleksitas masalah tersebut, Rutmaida menerapkan metode Social Casework yang digagas oleh Charles Zastrow melalui enam tahapan sistematis: Engagement, Assessment, Planning, Intervention, Evaluation, hingga Termination. Intervensi ini dijalankan secara intensif selama tujuh minggu dengan berfokus pada pendekatan berbasis kekuatan (strength-based approach).

“Pendekatan strength-based ini berfokus pada potensi, aset, dan sisa kekuatan yang masih ada pada diri klien, bukan melulu meratapi penyakit atau masalah ekonominya. Pertanyaan utamanya bukan ‘Apa yang salah dari kamu?’, melainkan ‘Kekuatan apa yang kamu miliki untuk bisa bangkit kembali?’,” jelas Rutmaida dalam pemaparannya.

Melalui pendekatan tersebut, Rutmaida berhasil mengoptimalkan modal psikologis Klien D, yaitu sikap ikhlas menerima status kesehatan (self-acceptance) serta etos kerjanya yang tinggi.

Tidak hanya itu, intervensi ini berhasil mengaktivasi jaring pengaman sosial pengganti (alternative resource system) di sekitar klien, seperti keluarga angkat, toleransi dari atasan tempat kerja, petugas keamanan setempat, serta Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang difasilitasi oleh YAYASAN MEDAN PLUS.

Untuk mengukur efektivitas program, evaluasi menyeluruh dilakukan menggunakan Model CIPP (Context, Input, Process, Product) dari Stufflebeam. Hasil intervensi direct service ini menunjukkan adanya transformasi psikososial yang signifikan pada diri Klien D.

Dari aspek psikologis, Klien D kini mampu menerima status kesehatannya dengan damai tanpa kehilangan harga diri sebagai manusia.

Dari aspek sosial, klien secara bertahap berhasil meruntuhkan tembok pertahanannya, mulai terbuka dalam interaksi interpersonal, serta berkomitmen kuat untuk kembali aktif beribadah.

Selain itu, aspek kepatuhan medis (medical adherence) klien meningkat drastis, di mana D kini sangat disiplin dalam menjalani terapi obat antiretroviral (ARV) dan menuntaskan pengobatan TBC.

Proses pendampingan profesional ini diakhiri melalui tahap terminasi yang beretika,keberhasilan praktikum ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi, lembaga sosial seperti YAYASAN MEDAN PLUS, dan penguatan sistem sumber lokal mampu menjadi faktor pelindung (protective factor) yang kokoh bagi masa depan para penyintas ODHA di perantauan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA