Di Bawah Langit Dini Hari, Kota Langsa Bersatu Menyambut Final Piala Dunia 2026

waktu baca 4 menit
Senin, 20 Jul 2026 03:48 36 Redaksi

Kota Langsa – Jarum jam belum lama melewati tengah malam ketika Lapangan Merdeka mulai dipenuhi langkah-langkah warga, Senin (20/7/2026).

Ada yang datang bersama keluarga, ada yang mengenakan jersey kebanggaan tim favorit, sebagian lagi membawa teman-teman sepermainan. Semua menuju satu titik yang sama, dua layar raksasa yang akan mempertemukan ribuan pasang mata dalam satu momen: Final FIFA World Cup 2026 antara Spanyol dan Argentina.

Dini hari itu, Lapangan Merdeka bukan sekadar ruang terbuka. Ia menjelma menjadi ruang kebersamaan, tempat perbedaan warna jersey, usia, profesi, hingga latar belakang melebur dalam semangat yang sama. Sorak-sorai, tawa, tepuk tangan, dan sesekali desah kecewa bergantian mengisi udara, menciptakan suasana yang sulit ditemukan dalam keseharian.

Masyarakat datang dari berbagai penjuru. Tidak hanya warga Kota Langsa, tetapi juga dari Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Mereka rela begadang demi menjadi bagian dari pengalaman yang mungkin akan lama dikenang.

Di tengah lautan manusia itu, Wali Kota Langsa, Jeffry Sentana S. Putra, hadir tanpa sekat. Bersama Ketua DPRK Langsa Melvita Sari, Sekretaris Daerah Suhartini, unsur Forkopimda Plus, para pimpinan OPD, hingga Pimpinan Bank Aceh Syariah Cabang Langsa, mereka larut dalam atmosfer yang sama dengan masyarakat.

Bagi Jeffry, malam itu bukan hanya tentang sepak bola.

Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat menjadikan final Piala Dunia sebagai momentum mempererat silaturahmi dan menjaga persatuan.

“Kegiatan ini bukan sekadar menonton pertandingan sepak bola, tetapi juga menjadi wadah mempererat silaturahmi dan menjaga kebersamaan masyarakat Kota Langsa,” ujarnya.

Ucapan itu terasa hidup ketika ribuan orang bersama-sama menyaksikan pertandingan. Mereka boleh berbeda dukungan. Ada yang bersorak untuk Spanyol, ada pula yang setia mendukung Argentina. Namun, perbedaan itu berhenti sebatas skor di lapangan.

“Malam ini boleh berbeda pilihan. Saya mendukung Spanyol, ada yang mendukung Argentina. Tetapi perbedaan pilihan tidak boleh memecah kebersamaan kita. Kita tetap bersatu dalam bingkai Kota Langsa,” kata Jeffry yang langsung disambut tepuk tangan panjang.

Malam itu juga menjadi catatan baru bagi Kota Langsa. Untuk pertama kalinya, Pemerintah Kota memanfaatkan videotron ruang publik sebagai media nonton bareng Piala Dunia. Sebuah inovasi sederhana yang menghadirkan pengalaman berbeda bagi masyarakat.

Tidak hanya menghadirkan tontonan, pemerintah juga menghadirkan kehangatan. Aroma kopi bercampur mi instan memenuhi sudut lapangan. Jagung rebus, kacang rebus, dan air mineral dibagikan secara cuma-cuma. Sebanyak 2.000 porsi mi instan dan kopi disediakan melalui Dinas Sosial Kota Langsa, menjadikan dinginnya dini hari terasa lebih bersahabat.

Sesekali terdengar sorakan lain ketika nama-nama pemenang doorprize diumumkan. Sebanyak 54 hadiah menarik dari Bank Aceh Syariah Cabang Langsa berpindah tangan kepada warga yang beruntung. Senyum bahagia tampak menghiasi wajah mereka saat hadiah diserahkan langsung oleh Wali Kota, Ketua TP PKK Kota Langsa, Ketua DPRK, Sekda, dan Pimpinan Bank Aceh Syariah Cabang Langsa.

Keseruan belum berhenti di situ. Jeffry menambah semangat masyarakat dengan tantangan sederhana namun menarik. Lima puluh orang yang berhasil menebak skor akhir pertandingan melalui akun Instagram resminya berhak memperoleh hadiah uang tunai masing-masing sebesar Rp200 ribu. Cukup mengunggah swafoto dari lokasi nobar, mengikuti akun Instagram Wali Kota, serta menuliskan prediksi skor.

Bagi sebagian warga, hadiah mungkin menjadi bonus. Namun bagi banyak lainnya, kebersamaan yang tercipta malam itu jauh lebih berharga.

Pelaksanaan nobar yang didukung TVRI sebagai official broadcaster Piala Dunia 2026 itu membuktikan bahwa ruang publik dapat menjadi tempat bertemunya pemerintah dan masyarakat tanpa jarak. Tidak ada podium yang menciptakan sekat, tidak ada perbedaan yang menghalangi kebersamaan.

Menjelang fajar, ketika pertandingan usai dan riuh perlahan mereda, Wali Kota mengingatkan masyarakat untuk pulang dengan tertib, beristirahat, dan mempersiapkan diri menunaikan Salat Subuh.

Di balik gegap gempita final sepak bola dunia, terselip pesan sederhana yang justru menjadi kemenangan sesungguhnya. Bahwa sebuah kota akan semakin kuat ketika masyarakatnya mampu menikmati perbedaan, merawat persaudaraan, dan berkumpul dalam ruang yang menghadirkan rasa memiliki.

Malam itu, Lapangan Merdeka bukan hanya menjadi arena nonton bareng. Ia menjadi saksi bahwa di bawah langit dini hari, Kota Langsa sedang merayakan sesuatu yang lebih besar daripada sepak bola: kebersamaan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA