Secangkir Sanger, Sepiring Dodol Durian, dan Sebuah Perpisahan yang Menghangatkan Langsa

waktu baca 4 menit
Senin, 29 Jun 2026 23:41 132 Redaksi

Kota Langsa — Malam telah larut. Jarum jam melewati pukul 21.00 WIB ketika sejumlah pemuda Kota Langsa melangkahkan kaki menuju sebuah rumah dinas yang selama lebih dari setahun menjadi pusat pengabdian seorang perwira polisi.

Tak ada spanduk. Tak ada podium. Tak pula seremoni resmi. Hanya langkah-langkah sederhana yang membawa satu tujuan: menjaga silaturahmi sebelum waktu memisahkan.

Senin (29/6/2026) malam itu, pengurus DPD KNPI Kota Langsa datang menemui Kapolres Langsa, AKBP Mughi Prasetyo Habrianto. Mereka bukan hendak menyampaikan aspirasi ataupun membahas persoalan keamanan. Mereka datang sebagai sahabat yang ingin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang sebentar lagi meninggalkan Kota Langsa untuk mengemban amanah baru sebagai Wadirpolairud Polda Aceh.

Rumah dinas yang biasanya tenang mendadak dipenuhi tawa dan percakapan hangat. Tanpa sekat jabatan, AKBP Mughi menyambut setiap tamu layaknya keluarga yang datang berkunjung.

Percakapan mengalir begitu saja. Tentang tugas, tentang masyarakat, tentang pemuda, hingga cerita-cerita sederhana yang justru menghadirkan keakraban.

Malam itu, tak ada bahasa formal seorang pejabat. Yang ada hanyalah kisah seorang manusia yang mencintai pekerjaannya dan menghargai setiap hubungan yang dibangun.

Di tengah obrolan, sang Kapolres perlahan berdiri menuju dapur. Beberapa menit kemudian aroma kopi memenuhi ruangan.

Bukan ajudan yang menyajikan. Bukan pula petugas rumah dinas. Mughi meracik sendiri kopi robusta bergaya sanger khas Langsa. Tangannya begitu terampil mengaduk, menuang, dan menyuguhkan secangkir kopi kepada para tamunya.

Setiap tegukan seolah menjadi simbol bahwa kedekatan tak selalu dibangun melalui rapat-rapat resmi. Kadang cukup melalui secangkir kopi yang diracik dengan ketulusan.

Belum habis rasa penasaran para tamu, Mughi kembali masuk ke dalam rumah. Kali ini ia keluar membawa sebuah baki berisi dodol durian.

Dengan senyum khasnya, ia mempersilakan semua mencicipi.

“Ini saya buat sendiri. Bahannya hampir semuanya durian asli, hanya sedikit tepung. Memasaknya sekitar tiga jam,” ujarnya.

Tak sedikit yang terkejut. Sosok yang selama ini dikenal tegas dalam memimpin ternyata juga piawai mengolah dodol durian. Bahkan ia menjelaskan dengan antusias bagaimana makanan itu bisa bertahan hingga setahun tanpa kehilangan cita rasanya.

Di balik seragam kepolisian, malam itu para tamu melihat sisi lain AKBP Mughi. Seorang pecinta kopi, penghobi memancing, penggemar Vespa klasik, sekaligus sosok yang menikmati proses memasak sebagai bagian dari ketenangan hidup.

Ketika perbincangan memasuki kisah perjalanan dinasnya, suasana perlahan berubah lebih hening.

AKBP Mughi mengenang hari ketika dirinya menerima penugasan ke Kota Langsa. Penempatan itu, katanya, tidak pernah masuk dalam rencana hidupnya. Namun tugas adalah kehormatan yang harus dijalani.

“Saya sebenarnya tidak pernah bermimpi pindah ke Langsa. Tapi ketika ditugaskan di sini, saya menjalaninya dengan senang hati. Sekarang Langsa sudah saya anggap rumah sendiri. Apalagi keluarga saya memang asli Langsa,” tuturnya.

Selama bertugas di sejumlah daerah, termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi seperti Poso, ia mengaku menemukan kenyamanan yang berbeda di Kota Langsa.

Menurutnya, kota kecil di pesisir timur Aceh itu menghadirkan ketenangan yang sulit dilupakan.

“Selama setahun lebih di sini saya merasa sangat nyaman. Masyarakatnya ramah, heterogen, dan penuh rasa kekeluargaan. Langsa akan selalu menjadi kota istimewa bagi saya,” katanya.

Menjelang akhir pertemuan, pesan sederhana namun bermakna ia titipkan kepada para pemuda.

Silaturahmi, katanya, jangan pernah berhenti hanya karena pergantian jabatan.

Ia berharap hubungan baik antara kepolisian dan generasi muda tetap terjaga, siapa pun yang memimpin Polres Langsa nantinya.

Ucapan itu disambut hangat Ketua DPD KNPI Kota Langsa, Dr. Rizky Maulana, yang menyampaikan apresiasi atas kedekatan AKBP Mughi dengan kalangan pemuda selama bertugas.

“Beliau bukan hanya seorang Kapolres, tetapi juga sahabat bagi pemuda Langsa. Kami mendoakan semoga amanah baru sebagai Wadirpolairud Polda Aceh membawa kesuksesan yang lebih besar,” ujarnya.

Sebagai kenang-kenangan, KNPI Kota Langsa menyerahkan sebuah karikatur bergambar AKBP Mughi sedang memancing, hobi yang selama ini melekat pada dirinya.

Karikatur itu diterima dengan senyum lebar. Tak ada pidato panjang. Tak ada kata-kata berlebihan.

Hanya secangkir kopi sanger, sepiring dodol durian buatan sendiri, tawa yang mengalir tanpa dibuat-buat, dan sebuah karikatur sederhana yang menjadi saksi bahwa hubungan antara seorang Kapolres dan pemuda Kota Langsa telah melampaui batas hubungan formal.

Malam itu, yang berpamitan bukan sekadar seorang pejabat kepada masyarakat.

Melainkan seorang sahabat yang meninggalkan sepotong kenangan di sebuah kota yang telah ia sebut sebagai rumah.

Dan bagi Kota Langsa, secangkir sanger, dodol durian, dan kehangatan silaturahmi itu akan selalu menjadi cerita yang sulit dilupakan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA