Dana Desa Tergerus KDMP, Apa yang Dilakukan Geuchik Terpilih?

waktu baca 3 menit
Selasa, 16 Jun 2026 08:57 19 Redaksi

Kota Langsa – Pemilihan Geuchik Langsung (Pilchiksung) di berbagai gampong di lima kecamatan dalam wilayah Kota Langsa menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan desa enam tahun ke depan.

Namun, siapapun yang nantinya terpilih sebagai geuchik harus menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satu isu yang kini mulai menjadi perbincangan adalah berkurangnya ruang gerak penggunaan Dana Desa akibat berbagai program prioritas nasional, termasuk pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Jika sebelumnya Dana Desa dapat lebih leluasa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan, kini sebagian porsi anggaran harus disesuaikan dengan kebijakan pemerintah pusat.

Kondisi tersebut tentu menuntut kreativitas dan kemampuan manajerial yang lebih baik dari para geuchik terpilih.

Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan geuchik terpilih ketika Dana Desa semakin terbatas?

Pertama, geuchik harus mampu menyusun skala prioritas yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Tidak semua program harus dijalankan sekaligus.

Pembangunan yang bersifat mendesak, seperti jalan lingkungan, saluran drainase, penanganan stunting, dan pemberdayaan ekonomi warga harus menjadi perhatian utama.

Kedua, geuchik dituntut membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Era mengandalkan Dana Desa sebagai satu-satunya sumber pembangunan sudah mulai berakhir.

Pemerintah gampong harus aktif menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha melalui program CSR, perguruan tinggi, hingga organisasi kemasyarakatan untuk mendukung pembangunan desa.

Ketiga, keberadaan KDMP seharusnya tidak dipandang sebagai beban semata. Jika dikelola secara profesional, koperasi dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.

Geuchik harus memastikan koperasi tidak hanya berdiri secara administratif, tetapi mampu menjalankan usaha yang menghasilkan keuntungan dan membuka lapangan kerja.

Keempat, transparansi menjadi kunci utama. Di tengah keterbatasan anggaran, masyarakat akan semakin kritis terhadap penggunaan Dana Desa.

Geuchik harus membuka ruang partisipasi publik dan melibatkan warga dalam proses perencanaan hingga pengawasan anggaran. Dengan demikian, setiap rupiah yang digunakan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Kelima, geuchik harus mampu melahirkan inovasi. Potensi desa yang selama ini belum tergarap, seperti sektor pertanian, perikanan, UMKM, wisata lokal, maupun ekonomi kreatif perlu dikembangkan agar desa tidak sepenuhnya bergantung pada transfer dana pemerintah.

Pilchiksung bukan lagi sekadar mencari figur yang populer atau banyak dikenal masyarakat. Tantangan ke depan membutuhkan pemimpin gampong yang memiliki kemampuan mengelola anggaran secara efektif, memahami regulasi, serta mampu menghadirkan solusi di tengah keterbatasan.

Masyarakat juga perlu menyadari bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak hanya bergantung pada besarnya Dana Desa. Faktor kepemimpinan, integritas, inovasi, dan partisipasi warga memiliki peran yang jauh lebih menentukan.

Karena itu, ketika masyarakat memberikan mandat kepada seorang geuchik pada Pilchiksung mendatang, sesungguhnya mereka sedang memilih nahkoda yang harus mampu membawa gampong tetap maju meski ruang fiskal semakin sempit.

Di tengah Dana Desa yang mulai tergerus berbagai program prioritas, geuchik yang visioner bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan.

Selamat mengikuti Pilchiksung bagi Cage, Pilchiksung harus berjalan secara sportif, jujur, adil, dan bersih dari kampanye hitam (black campaign) demi kemajuan desa.

Oleh: Redaksi Opini. Selasa, 16 Juni 2026.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA